Kamis, 15 Oktober 2020

RIVIEW MATERI SEJARAH PEDESAAN 14 OKTOBER 2020

 

RIVIEW MATERI

SEJARAH PEDESAAN

14 OKTOBER 2020

Ciri-ciri masyarakat pedesaan

Talcot Parsons menjelaskan bahwa masyarakat desa sebagai masyarakat gemeinshcaft memiliki karkateristik sebagai berikut:

 

1.      Afektifitas, ada hubungannya dengan perasaan kasih sayang, cinta, kasih, kesetiaan dan kemesraan.perwujudan dalam sikap dan perbuatan tolong menolong, menyatakan simpati terhadap musibah yang dihadapi oleh orang lain dan menolong tanpa pamrih.

2.      Orientasi kolektif sifat ini merupakan konsekuensi dari Afektifitas, yaitu mereka mementingkan kebersamaan , tidak suka menonjolkan diri, tidak suka akan orang yang berbeda pendapat, intinya semua harus memperlihatkan keseragaman persamaan.

3.      Partikularisme pada dasarnya adalah semua hal yang ada hubungannya dengan keberlakuan khusus untuk suatu tempat atau daerah tertentu. Perasaan subyektif, perasaan kebersamaan sesungguhnya yang hanya berlaku untuk kelompok tertentu saja.(lawannya Universalisme).

4.      Askripsi yaitu berhubungan dengan mutu atau sifat khusus yang tidak diperoleh berdasarkan suatu usaha yang tidak disengaja, tetapi merupakan suatu keadaan yang sudah merupakan kebiasaan atau keturunan.(lawanya prestasi).

5.      Kekabaran (diffuseness). Sesuatu yang tidak jelas terutama dalam hubungan antara pribadi tanpa ketegasan yang dinyatakan eksplisit. Masyarakat desa menggunakan bahasa tidak langsung, untuk menunjukkan sesuatu. Dari uraian tersebut (pendapat Talcott Parson) dapat terlihat pada desa-desa yang masih murni masyarakatnya tanpa pengaruh dari luar.

 

Pola pemukiman Menurut Pitirim Solikin:               

1.      Pola pemukiman Mengelompok

Pola pemukiman desa ini cenderung berkelompok dimana sejumlah keluarga tinggal berdekatan satu sama lain dengan area di sekitarnya berupa lahan pertanian. Biasanya pola pemukiman memusat ada di daerah dataran rendah subur dengan sumber air yang baik atau lembah, contohnya Kampung Naga di Neglasari Tasikmalaya.Pemukiman desa model ini biasanya akan dijumpai rumah, lumbung padi, gudang perkakas, tempat ibadah hingga sekolah. Setiap penduduk yang hidup disana akan diberikan sebidang lahan atau menyewa lahan untuk diusahakan. Saat populasi tumbuh semakin pesat maka pemukiman baru akan dibangun di dekat rumah yang sudah ada. Pola pemukiman seperti ini membuat kekerabatan diantara penduduk sangat erat karena jarak yang berdekatan.

2.      Pola pemukiman Mengelompok tidak teratur

Pola pemukiman ini membentuk lingkaran dengan ruang terbuka di tengah-tengah pemukiman. Pemukiman dibangun mengikuti garis lingkaran dari pusat daerah terbuka. Pengaturan bangunan biasanya akan dilakukan sesuai kesepakatan atau hukum adat. Model ini menyerupai pola ruang Von Thunen karena strukturnya melingkar dengan titik pusat di tengahnya.

3.      Pola pemukiman Menyebar

Pola pemukiman ini berbentuk memanjang mengikuti suatu kenampakan seperti sungai, rel kereta atau jalan raya. Transportasi utama mengandalkan sungai atau jalanan sempit jika diantara rel kereta atau jalan raya. Banjarmasin menjadi salah satu daerah dengan banyak pemukiman memanjang di pinggir sungai sehingga menghasilkan budaya sungai.

4.      Pola pemukiman Menyebar Tidak teratur

Pola pemukiman ini tersebar tidak merata di berbagai titik dan biasanya berada di wilayah seperti pegunungan karst dan perbukitan. Para penduduk cenderung terisolasi satu sama lain dengan kondisi transportasi yang sulit.

Stratifikasi social atau pelapisan social adalah pembedaan masyarakat ke

dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis) yang wujudnya adalah kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah Sistem pelapisan tersebut merupakan ciri yang tetap dan umum dalam  setiap masyarakat yang hidup teratur. mengatakan bahawa barang siapa yang memiliki susatu barang berharga,  misalnya barang, uang, ternak dan sebagainya dalam jumlah yang sangat  banyak dianggap oleh masyarakat berkedudukan dalam lapisan atas. Bagi  mereka yang hanya memiliki sedikit sesuatu yang berharga tersebut  dianggap tidak mempunyai kedudukan dalam masyarakat.

a. Pelapisan Masyarakat Desa

Umumnya di Indonesia, kebanyakan penduduknya memperoleh penghidupan dalam bidang pertanian, maka dengan sendirinya  tanah merupakan sumber usaha produksi pertanian. Untuk kebanyakan desa-desa di Jawa seperti di Jawa Timur, tanah sebagai sumber kekayaan terpenting bagi masyarakat petani akan menentukan kedudukan seseorang di dalam masyarakat. 

Dari penelitian Singarimbun dan Penny (1984) menjelaskan bahwa struktur luas tanah untuk pertanian adalah sangat sempit di dua daerah penelitian yaitu Klaten dan Surakarta. Sebagian besar penduduk berada di jenjang terbawah memiliki bagian tanah yang sempit, sedang sebagian kecil dari mereka yang memilki sumber produksi pertanian yang lebih luas.

Pada pertanian modern, berdampak pada hubungan sosial antara masyarakat desa, dimana hubungan tidak menempatkan hubungan bapak anak buah, tetapi kembali menjadi hubungan majikan dengan buruh. Hubungan yang sama juga nampak pada masyarakat nelayan, dimana  orang yang memiliki alat-alat penangkapan ikan (jaring, pukat dan perahu mesin) menempati lapisan atas dalam masyarakat nelayan tersebut. Di Sulawesi, para pemilik peralatan penangpakan  disebut dengan para “punggawa” dan anak buahnya disebut para “sawi”.

Untuk desa-desa industri kecil atau kerajinan, mereka memiliki modal besar serta alat-alat produksi menempati lapisan atas dalam masyarakat tersebut dan yang tidak berada pada lapisan bawah. Menurut Prof. Soedjito dalam Jefta (1995), melihat stratifikasi sosial di desa berdasarkan atas kemampuan ekonomi yang terdiri dari 3 lapisan,

yaitu “

   Lapisan I : Lapisan elit yang semakin memiliki cadangan pangan

juga memiliki modal cdangan pengembangan usaha

 Lapisan II : mereka hanya memiliki cadangan pangan saja 

 Lapisan III : mereka yang tidak memiliki modal cadangan pangan

dan pengembangan usaha 

Rogers, (1987) membagi masyrakat (para adopter) ke dalam innovator adopter awal, mayoritas (awal dan akhir) dan laggard (golongan masyarakat lapisan bawah). Sedang Calson (1981) mengemukakan bahwa struktur teratas diduduki oleh warga desa kaya, terdiri dari orang-orang seperti pemilik perusahaan perkayuan besar, pengusaha tambang, pengusaha bisnis kota kecil, pemilik lahan usaha tani besar, dokter, pengacara dan profesional lain lulus perguruan tinggi.

Strata kedua adalah para guru di pedesaan, pemilik lahan usaha tani dalam ukuran menengah, manager perusahan besar di pedesaan, para operator tempat-tempat rekreasi dan orang-orang berpenghasilan lumayan termasuk ke dalam kelas menengah. Mereka ini sering disebut juga dengan buruh berdasi (white collar class). Sedang lapisan paling bawah adalah orang-orang yang bekerja sebagai buruh perusahaan atau pabrik industry di desa, pelayan toko, orang yang bekerja  tanpa memerlukan pendidikan tinggi dan bergaji sekedarnya, para buruh tenaga kasar, orang yang berpenghasilan rendah. Orang-orang ini sering disebut sebagai orang yang berseragam biru (blue collar class).  

 

Kamis, 08 Oktober 2020

Review Materi Sejarah Pedesaan (7 oktober 2020)

 

Review Materi Sejarah Pedesaan

3 unsur desa

1.      rangka/wilayah

2.      darah/keturunan

3.      warah/adat/ajaran

Setiap desa pastinya akan mempunyai batasan-batasan yang biasanya dibatasi dengan bentang alam. Tingkat geografis juga menentukan bagaimana perekonomian, pendidikan nya. Biasanya semakin jauh desa dari kota, maka tingkat pendidikan nya biasanya rendah.

Ciri-ciri desa menurut dirjen Bangdes;

1.      perbandingan lahan dengan manusia cukup besar

2.      lapangan kerja dominan agraris

3.      hubungan antar warga akrab

4.      tradisi lama masih berlaku

Ciri-ciri desa Menurut Roucek – Warren :

1.      Kelompok primer merupakan kelompok dominan

2.      Hubungan antar warga bersifat akrab dan awet

3.      Homogen dalam berbagi aspeknya

4.      Mobilitas sosial rendah

5.      Keluarga lebih dilihat fungsinya secara ekonomis sebagai unit produksi

6.      Proporsi anak lebih besar

Bentuk & pola desa menurut Bintarto;

1.      memanjang sepanjang jalan

2.      memanjang mengikuti sungai

3.      pola permukiman tersebar

4.      memanjang sepanjang pantai

5.      sejajar dengan rel kereta api

Bermulanya suatu desa yaitu dengan dimulai bercocok tanam dan warganya maemiliki hubungan akrab

Pola Pengelompokan Desa :

1.Bentuk desa menyusur sepanjang pantai (desa pantai).

2. Bentuk desa yang terpusat (desa pegunungan).

3. Bentuk desa linier di dataran rendah.

4. Bentuk desa mengelilingi fasilitas tertentu

Menurut Bintarto, terdapat enam pola pemukiman penduduk desa, yaitu:
1. Memanjang jalan. Di daerah plain (datar) susunan desanya mengikuti jalur-jalur jalan dan sungai.
2. Memanjang sungai.
3. Radial. Pola desa ini berbentuk radial terhadap gunung dan memanjang sepanjang sungai di lereng gunung.
4. Tersebar
5. Memanjang pantai. Di daerah pantai susunan desa nelayan berbentuk memanjang sepanjang pantai.
6. Memanjang pantai dan sejajar dengan kereta api.